Monday, April 7, 2014

Jangan Jadikan Anak Kita Raja yang Tak Pernah Salah

Ketika anak kita mulai belajar berjalan, tak jarang tanpa sengaja dia menabrak kursi atau meja. Lalu menangis. 

Umumnya, yang kita lakukan agar tangisnya berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja ditabrak itu. Sambil berkata, “Kursinya nakal ... Papa pukul ya... cup….cup…diem... kursinya sudah papa pukul." Dan sang anak pun terdiam.

Namun ternyata, ketika itu dilakukan, sebenarnya kita telah mengajarkan hal terburuk bagi anak kita: bahwa ia tidak pernah salah. Yang salah adalah orang atau benda lain. 

Pemikiran tersebut akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang dianggap salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi hukuman adalah orang lain yang sebenarnya tidak salah.

Kita sebagai orang tua biasanya baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkannya untuk tidak pernah merasa salah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika anak kita yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis?

Ajarkanlah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Katakanlah padanya, sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit,: 

”Sayang, kamu menabrak kursi ya. Sakit? Lain kali harus hati-hati, jalannya pelan-pelan saja supaya tidak menambrak lagi.”

Dia akan belajar bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan.